teori kependudukan
TEORI
KEPENDUDUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kependudukan adalah hal ihwal yang
berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran,
perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta
ketahanannya yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pengelolaan
kependudukan dan pembangunan keluarga adalah upaya terencana untuk mengarahkan
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga untuk mewujudkan penduduk
tumbuh seimbang dan mengembangkan kualitas penduduk pada seluruh dimensi
penduduk. Perkembangan kependudukan adalah kondisi yang berhubungan dengan
perubahan keadaan kependudukan yang dapat berpengaruh dan dipengaruhi oleh
keberhasilan pembangunan berkelanjutan.
Perubahan-perubahan
jumlah penduduk terjadi karena pengaruh faktor-faktor alam, seprti halnya
tumbuhan dan hewan mengalami pengaruh itu. Temperatur, curah-curah, kelembaban,
ruang hidup, keadaan jasmani, dan lain-lain, merupakan faktor-faktor yang
dipakai untuk menyusun teori. Di samping teori naturalistik ini, ada pula
teori-teori lain yang didasarkan atas faktor sosial dan kebudayaan, karena pada
manusia faktor inilah yang lebih berperanan.
Penduduk yang
menempati bagian-bagian muka bumi mengalami pasang surut, dan
perubahan-perubahan ini menyadarkan berbagai pihak untuk memberi penjelasan,
sehingga muncullah berbagai teori penduduk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan makalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimana Teori Kependudukan Menurut Aliran Malthusian
(Thomas R. Malthus) ?
2.
Bagaimana Teori Kependudukan Menurut Aliran Neo
Malthussian (Ehrlich) ?
3.
Bagaimana Teori Kependudukan Menurut Aliran Marxist
(Karl Max dan Friederich Engels) ?
4.
Bagaimana Teori Kependudukan Menurut Aliran
Kontemporer (Malthus dan Marx) ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Kependudukan
Menurut Aliran Malthusian (Thomas R. Malthus)
Aliran
Malthusian dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, Robert Malthus (1766-1834) terkenal sebagai pelapor Ilmu Kependudukan (Population Studies) sebagai bagian dari
rentetan perkembangan demografi yang telah dimulai sejak pertengahan abad
ke-17. Tulisan monumentalnya An Essay on The
Principle of Population as it Affect Future Improvemenet of Society, with
remarkson the speculations of Mr. Godwin, Mr. Condorcet and other Writer atau
lebih populer dengan sebutan Prinsip Kependudukan (The Principle of
Population) diterbitkan pertama kali pada tahun 1798. Meskipun memperoleh banyak kritik, pada dasarnya
mendapat pengakuan yang luas di kalangan para ahli. Inti pemikiran dan pendapat
Malthus kemudian dikenal dengan Teori
Kependudukan Malthus. Ringkasan dari tulisan-tulisan Malthus ada dalam A Summary View of the Principle of
Population yang dipublikasikan dalam tahun 1830. [1]
Malthus
memulai dengan merumuskan dua postulat yaitu:
1.
Bahwa pangan dibutuhkan untuk hidup manusia dan
2.
Bahwa kebutuhan nafsu seksuil antar jenis kelaminan akan tetap sifatnya
sepanjang masa.
Atas dasar postulat tersebut Malthus menyatakan bahwa,
jika tidak ada pengekangan, kecenderungan pertambahan jumlah manusia akan lebih
cepat dari pertambahan subsisten (pangan). Perkembangan penduduk akan mengikuti
deret ukur sedangkan perkembangan subsisten (pangan) mengikuti deret hitung
interval waktu 25 tahun.
Ia menyatakan bahwa penduduk itu (seperti
juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan
berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari
permukaan bumi ini. Tinggi pertumbuhan ini disebabkan karena hubungan kelamin
antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dihentikan.
Jika kondisi ini dibiarkan maka
manusia akan mengalami kekurangan pangan dan kemiskinan. Untuk keluar dari
permasalah ini menurut Malthus harus ada pengekangan perkembangan penduduk.
Pengekangan tersebut dapat berupa pengekangan segera dan pengekangan hakiki.
Yang dimaksud dengan pengekangan hakiki adalah pangan. Sedangkan bentuk
pengekangan segera adalah bentuk preventive check dan positive check.[2]
1. Preventive check
Preventive check adalah
pengurangan penduduk melalui penekanan kelahiran. Preventive check timbul
karena kemampuan penalaran manusia sehingga dapat meramalkan akibat-akibat yang
akan terjadi di kemudian hari. Preventive check dibagi menjadi 2
yaitu:
a.
Moral
restraint (Pengekangan diri)
Moral
restraint yaitu segala usaha mengekang nafsu seksual.
b. Vice
Vice yaitu
pengurangan kelahiran seperti, abortus, penggunaan alat kontrasepsi,
homoseksual, pelacuran.
2. Positive
check
Positive check adalah
pengurangan penduduk melalui proses kematian. Apabila di suatu wilayah jumlah
penduduk lebih besar daripada jumlah persediaan pangan maka dapat dipastikan
akan terjadi kelaparan, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Sehingga dapat
dipastikan tingkat kematin akan semakin meningkat. Positive check dibagi
menjadi 2 yaitu:
a.
Vice
(kejahatan)
Vice yaitu
segala jenis pencabutan nywa sesama manusia seperti manusia seperti pembunuhan
anak-anak (infanticide), pembunuhan orang-orang cacat, dan orang tua.
b. Misery
(kemelaratan)
Misery yaitu
segala keadaan yang menyebabkan kematian seperti berbagai jenis penyakit dan
epidemi, bencana alam, kelaparan, kekurangan pangan dan peperangan.
Bagi Malthus moral restraint
merupakan pembatasan kelahiran yang paling penting, sedangkan penggunaan alat
kontrasepsi belum dapat diterimanya. Pendapat banyak mendapat kritikan dari para ahli yang menimbulkan diskusi secara terus menerus. Karena
gagasan yang dicetuskan Malthus pada abad 18 dianggap aneh pada saat itu .
Malthus mengatakan bahwa dunia akan kehabisan sumber daya alam karena jumlah
penduduk yang terus meningkat, hal ini bagi mereka tidak dapat diterima oleh
akal sehat. Pada dunia baru seperti Amerika, Afrika, Autralia dan Asia dengan
sumber daya alam yang melimpah mereka berpendapat bahwa persediaan makanan
tidak akan habis. Sehingga preposisi yang diajukan oleh Malthus tersebut
akhirnya memunculkan beberapa kritik sebagai berikut:[3]
¨ Mathus terlalu menekankan
terbatasnya persediaan tanah, tetapi ia tidak menyangka akan ada keuntungan
besar dari kemajuan transpor yang dikombinaksikan dengan pembukaan tanah
pertanian baru di Amerika Serikat, Australia dan tempat-tempat lainnya. Karena
dengan kemajuan-kemajuan transportasi yang menghubungkan daerah satu dengan
daerah lainnya sehingga pendistribusian bahan makanan ke daerah-daerah yang
kekurangan makanan mudah dilaksanakan.
¨ Dalam kondisi yang menguntungkan,
hewan dan tanaman dapat meningkat menurut deret ukur.
Malthus tidak memperhitungkn bahwa teknologi juga dapat maju dengan pesat.
Dengan adanya peningkatan metode-metode pertanian seperti penggunaan pupuk dan
bibit unggul lebih banyak maka dapat menaikkan produktivtas.
¨ Malthus tidak memeprtimbangkan
kontrol fertilitas bagi pasangan-pasangan yang sudah menikah. Pada tahun 1822,
Francis Place menganjurkan pembatasan kelahiran setelah perkawinan.
¨ Malthus tidak memperhitungkan bahwa
fertilits dapat menurun apabila terjadi perkembangan ekonomi dan naiknya
standar hidup penduduk dinaikkan.
B. Teori Kependudukan
Menurut Aliran Neo Malthussian (Ehrlich)
Pada permulaan abad ke 19 orang
masih dapat mengatakan bahwa apa yang diramalkan malthus tidak mungkin terjadi.
Tetapi sekarang beberapa orang percaya bahwa hal itu akan terjadi. Hal ini
dapat dibuktikan bahwa setiap minggunya ada lebih dari satu juta bayi lahir di
dunia ini, ini berarti satu juta lagi mulut yang harus diberi makan.
Dengan realitas yang ada seperti itu
akhirnya pada akhir abad 19 dan awal abad 20 Teori Malthus diusung kembali oleh
Garreth Hardin dan Paul Ehrlich. Garreth Hardin dan Paul Ehrlich
memunculkan Aliran Neo Malhusian. Aliran ini lebih radikal dari pada
Aliran Malthus. Aliran ini tidak sependapat dengan gagasan Malthus bahwa
mengurangi jumlah penduduk cukup dengan moral restraint saja. Akan
tetapi mereka menawarkan bahwa untuk mengurangi jumlah penduduk dapat dilakukan
dengan cara preventive checks, misalnya dengan penggunaan alat
kontrasepsi dan aborsi.[4]
Tahun 1871 Ehrlich menulis
buku “The Population Bomb” dan kemudian direvisi menjadi “The Population
Explotion” yg berisi:
- Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.
- Keadaan bahan makanan sangat terbatas.
- Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.
Pada tahun 1972 Meadow menulis buku “The Limit to Growth” memuat ungan variabel lingkungan, yaitu penduduk, produksi pertanian, Industri, eraaya alarn, dan polusi. Pada waktu persediaan sumberdaya alam masih maka bahan makanan per kapita, hasil industri dan penduduk bertambah dan cepat. Pertumbuhan ini akhimya menurun sejalan dengan menurunnya persediaan sumberdaya alam yang akhirnya menurut model ini habis pada tahun 2100. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan, yaltu membiarkan
malapetaka itu terjadi, atau manusa ini membatasi pertumbuhannya dan mengeola
Iingkungan alam dengan baik (Jones, 1981).
C. Teori Kependudukan
Menurut Aliran Marxist (Karl Max dan Friederich Engels)
Aliran ini
di pelopori oleh Karl Marx dan Friederich Engels ketika Malthus meninggal dunia
di Inggris pada tahun 1834. Pada waktu itu teori
Malthus sangat berperan di Inggris maupun di Jerman. Marx dan Engel tidak
sependapat dengan Malthus yang menyatakan bahwa apabila tidak ada pembatasan
terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan kekurangan bahan makanan,
tetapi tekanan penduduk terhadap kesempatan kerja. Menurut Marx, kemelaratan terjadi bukan disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang
terlalu cepat, tetapi karena kesalahan masyarakat itu sendiri seperti yang
terdapat pada negara-negara kapitalis. Kaum kapitalis akan mengambil sebagian
pendapatan dari buruh sehingga menyebabkan kemelaratan buruh tersebut.
Marx juga mengatakan bahwa, kaum
kapitalis membeli mesin-mesin untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang
dilakukan oleh kaum buruh. Jadi penduduk yang melarat
bukan disebabkan karena kekurangan bahan pangan, akan tetapi karena kaum
kapitalis mengabil sebagian dari pendapatan kaum buruh yang dihasilkan. Jadi, menurut Marx dan Engels sistem kapitalis yang meneyebabkan kemelaratan tersebut, dimana kaum pemilik modal menguasai alat-alat produksi. Maka
menurut Marx untuk mengatasi hal-hal tersebut maka struktur masyarakat harus
diubah dari sistim kapitalis menjadi sistim sosialis.
Menurut
Marx dalam sistem sosialis alat-alat produksi di kuasai oleh buruh, sehingga
gaji buruh tidak akan terpotong. Buruh akan menikmati seluruh hasil kerja
mereka dan oleh karena itu masalah kemelaratan akan dapat dihapuskan. Marx juga
mengatakan bahwa semakin banyak jumlah manusia, semakin tinggi hasil produktivitasnya, jadi tidak perlu diadakan
pembatasan pertumbuhan penduduk. Marx dan Engel menentang usaha-usaha moral
restraint yang dicetuskan oleh Malthus.
Dalam hal ini pendapat Marx banyak yang menganutnya seperti halnya dengan Malthus.
Setelah Perang Dunia II dunia dibagi menjadi tiga kelompok; pertama,
negara-negara kapitalis yang umumnya cenderung membenarkan teori Malthus
seperti Amerika Serikat, Ingris, Prancis, Australia, Canada, dan Amerika latin;
kedua, negara yang menganut sistem sosial, seperti Uni Soviet,
negara-negara Eropa Timur, Republik Rakyat Cina, Korea Utara dan Vietnam; ketiga,
negara-negara nonblok seperti India, Mesir dan Indonesia.
Beberapa kritik yang telah
dilontarkan terhadat teori Marx ini diantaranya adalah sebagai berikut: Marx
menyatakan bahwa hukum kependudukan di negara sosialis merupakan antithesa
hukum kependudukan di negara kapitalis. Menurut hukum ini apabila di negara
kapitalis tingkat kelahiran dan tingkat kematian sama-sama rendah maka di negara
sosialis akan terjadi kebalikannya yaitu tingkat kelahiran dan tingkat kematian
sama-sama tinggi. Namun kenyatanya tidaklah
demikian, tingakat pertumbuhan penduduk di negara Uni Soviet hampir sama dengan negara-negara maju yang sebagian besar merupakan negara
kapitalis.
D. Teori Kependudukan
Menurut Aliran Kontemporer (Malthus dan Marx)
1). Teori Fisiologi dan
sosial ekonomi
a. John Stuart Mill
John Stuart
Mill, seorang ahli filsafat dan ahli ekonomi berkebangsaan Inggris dapat
menerima pendapat Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk melampaui laju
pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu aksioma. Namun demikian dia berpendapat
bahwa pada situasi tertentu manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya.
Selanjutnya ia mengatakan apabila produktivitas seorang tinggi ia cenderung
ingin memiliki keluarga kecil. Dalam situasi seperti ini fertilitas akan
rendah. Jadi taraf hidup (standard of living) merupakan determinan fertilitas.
Tidaklah benar bahwa kemiskinan tidak dapat dihindarkan (seperti dikatakn
Malthus) atau kemiskinan itu disebabkan karena sistem kapitalis (seperti
pendapat Marx) dengan mengatakan “The niggardline of nature, not the injustice
of society is the cause of the penalty attached to everpopulation (Week, 1992).
Kalau suatu
waktu di suatu wilayah terjadi kekurangan bahan makanan, maka keadaan ini
hanyalah bersifat sementara saja. Pemecahannya ada dua kemungkinan yaitu :
mengimpor bahan makanan, atau memindahkan sebagian penduduk wilayah tersebut ke
wilayah lain.
Memperhatikan bahwa tinggi
rendahnya tingkat kelahirann ditentukan oleh manusia itu sendiri, maka Mill
menyarankan untuk meningkatkan tingkat golongan yang tidak mampu. Dengan
meningkatnya pendidikan penduduk maka secara rasional maka mereka
mempertimbangkan perlu tidaknya menambah jumlah anak sesuai dengan karier dan
usaha yang ada. Di sampan itu Mill berpendapat bahwa umumnya perempuan tidak
menghendaki anak yang banya, dan apabila kehendak
mereka
diperhatikan maka tingkat kelahiran akan rendah.
b. Arsene Dumont
Arsene Dumont
seorang ahli demografi bangsa Perancis yang hidup pada akhir abad ke-19. Pada
tahun 1980 dia menulis sebuah artikel berjudul Depopulation et Civilization. Ia
melancarkan teori penduduk baru yang disebut dengan teori kapilaritas sosial
(theory of social capilarity). Kapilaritas sosial mengacu kepada keinginan
seseorang untuk mencapai kedudukan yang tinggi di masyarakat, misalnya: seorang
ayah selalu mengharapkan dan berusaha agar anaknya memperoleh kedudukan sosial
ekonomi yang tinggi melebihi apa yang dia sendiri telah mencapainya. Untuk
dapat mencapai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, keluarga yang besar
merupakan beban yang berat dan perintang. Konsep ini dibuat berdasarkan atas
analogi bahwa cairan akan naik pada sebuah pipa kapiler.
Teori kapilaritas
sosial dapat berkembang dengan baik pada negara demokrasi, dimana tiap-tiap
individu mempunyai kebebasan untuk mencapai kedudukan yang tinggi di
masyarakat. Di negara Perancis pada abad ke-19 misalnya, dimana system
demokrasi sangat baik, tiap-tiap orang berlomba mencapai kedudukan yang tinggi
dan sebagai akibatnya angka kelahiran turun dengan cepat. Di negara sosialis
dimana tidak ada kebebasanuntuk mencapai kedudukan yang tinggi di masyarakat,
system kapilaritas sosial tidak dapat berjalan dengan baik.
c.
Emili
Durkheim
Emile Durkheim
adalah seorang ahli sosiologis Perancis yang hidup pada akhir abad ke-19.
Apabila Dumont menekankan perhatiannya pada faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk, maka Durkheim menekankan perhatiannya pada keadaan akibat
dari adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi (Weeks, 1992). Ia mengatakan,
akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk, akan timbul persaingan diantara
penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam memenangkan persaingan
tiap-tiap tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan
keterampilan, dan mengambil spesialisasi tertentu, keadaan seperti ini jelas
terlihat pada kehidupan masyarakat perkotaan dengan kehidupan yang kompleks.
Apabila
dibandingkan antara kehidupan masyarakat tradisional dan masyarakat perkotaan,
akan terlihat bahwa pada masyarakat tradisional tidak terjadi persaingan dalam
memperoleh pekerjaan, tetapi pada masyarakat industri akan terjadi sebaliknya.
Hal ini disebabkan ada masyarakat industri tingkat pertumbuhan dan kepadatan
penduduknya tinggi. Tesis dari Durkheim ini didasarkan atas teori evolusi dari
Darwin dan juga pemikiran dari Ibn Khaldun.
d. Michael Thomas
Sadler dan Doubleday
Kedua ahli ini
adalah penganut teori fisiologis. Sadler mengemukakan, bahwa daya reproduksi
manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu wilyah atau negara.
Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia akan menurun,
sebaliknya jika kepadatan penduduk rendah, daya reproduksi manusia akan
menungkat.
Thomson (1953)
meragukan kebenaran teori ini setelah melihat keadaan di Jawa, India dan Cina
dimana penduduknya sangat padat, tetapi pertumbuhan penduduknya juga tinggi.
Dalam hal ini Malthus lebih konkret argumentasinya dari pada Sadler. Malthus
mengatakan bahwa penduduk disuatu daerah dapat mempunyai tingkat fertilitas
yang tinggi, tetapi dalam pertumbuhan alaminya rendah karena tingginya tingkat
kematian. Namun demikian, penduduk tidak dapat mempunyai fertilitas tinggi,
apabila tidak mempunyai kesuburan (fecunditas) yang tinggi, tetapi penduduk
dengan tingkat kesuburan tinggi dapat juga tingkat fertilitasnya rendah.
Teori Doubleday
hamper sama dengan teori Sadler, hanya titik tolaknya berbeda. Kalau Sadler
mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan tingkat
kepadatan penduduk, maka Doubleday berpendapat bahwa daya reproduksi penduduk
berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia. Jadi kenaikan
kemakmuran menyebabkan turunnya daya reproduksi manusia. Jika suatu jenis
makhluk diancam bahaya, mereka akan mempertahankan diri dengan segala daya yang
mereka miliki. Mereka akan mengimbanginya dengan daya reproduksi yang lebih
besar (Iskandar, 1980).
Menurut
Doubleday, kekurangan bahan makanan akan merupakan perangsang bagiu daya
reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru merupakan faktor penegkang
perkembangan penduduk. Dalam golongan masyarakat yang berpendapatan rendah,
seringkali terdiri dari penduduk dengan keluarga besar, sebaliknya orang yang
mempunyai kedudukan yang lebih baik biasanya jumlah keluarganya kecil.
Rupa-rupanya
teori fisiologis ini banyak diilhami dari teori aksi an reaksi dalam meninjau
perkembangan penduduk suatu negara atau wilayah. Teori ini dapat menjelaskan
bahwa semakin tinggi tingkat mortalitas penduduk semakin tinggi pula tingkat
produksi manusia.
e. Herman Khan
Pandangan yang
suram dan pesimis dari Mlthus beserta penganut-penganutnya ditentang keras oleh
kelompok teknologi. Mereka beranggapan manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu
melipatgandakan produksi pertanian. Mereka mampu mengubah kembali (recycling)
barang-barang yang sudah habis dipakai, sampai akhirnya dunia ketiga mengakhiri
masa transisi demografinya.
Ahli futurology
Herman Kahn (1976) mengatakan bahwa negara-negara kaya akan membantu negara-negara
miskin, dan akhirnya kekayaan itu akan jatuh kepada orang-orang miskin. Dalam
beberapa decade tidak akan terjadi lagi perbedaan yang mencolok antara umat
manusia di dunia ini.
Dengan tingkat
teknologi yang ada sekarang ini mereka memperkirakan bahwa dunia ini mampu
menampung 15 milliun orang dengan pendapatan melebihi Amerika Serikat dewasa
ini. Dunia tidak akan kehabisan sumber daya alam, karen seluruh bumi ini
terdiri dari mineral-mineral. Proses pengertian dan recycling akan terus
terjadi dan era ini disebut dengan era substitusi. Mereka mengkritik bahwa The
Limit to Growth bukan memcahkan masalah tetapi memperbesar permasalahan
tersebut.
Kelompok Malthus
dan kelompok teknologi mendapat kritik dari kelompok ekonomi, karena
kedua-duanya tidak memperhatikan masalah-masalah organisasi sosial dimana
distribusi pendapatan tidak merata. Orang-orang miskin yang kelaparan, karena
tidak meratanya distribusi pendapatan di negara-negara tersebut. Kejadian
seperti ini di Brasilia, dimana Pendapatan Nasional (GNP) tidak dinikmati oleh
rakyat banyak adalahsalah satu contoh dari ketimpangan organisasi sosial
tersebut.
2). Teori Teknologi
Kelompok ini
muncul untuk menolak pandangan Malthus yang pesimis dalam melihat perkembangan
dunia.Teori ini dimotori oleh Herman Khan, ia berpendapat bahwa kemiskinan yang
terjadi di negara berkembang akan dapat diatasi jika negara maju dapat membantu
daerah miskin, sehingga kekayaan dan kemampuan daerah hidup itu akan didapatkan
oleh orang-orang miskin.Ia beranggapan bahwa teknologi maju akan mampu
melakukan pemutaran ulang terhadap nasib manusia pada suatu masa yang disebut
‘Era Substitusi’.
3. Teori Transisi
Kependudukan
Tahap Peralihan keadaan
demografis:
1. Tingkat kelahiran
dan kematian tinggi. Penduduk tetap/naik sedikit. anggaran kesehatan meningkat.
Penemuan obat obatan semakin maju. Angka kelahiran tetap tinggi.
2.
Angka kematian menurun, tingkat kelahiran masih tinggi, pertumbuhan penduduk
meningkat, adanya Urbanisasi, usia kawin meningka, Pelayanan KB Luas, pendidikan
meningkat.
3.
Angka kematian terus menurun, angka kelahiran menurun,
laju
pertumbuhan penduduk menurun.
4. Kelahiran dan kematian
pada tingkat rendah pertumbuhan penduduk kembali seperti kategori I mendekati nol.
Keempat kategori ini
akan didialami oleh negara yang sedang melaksanakan pembangunan ekonomi.
Penerapan
Transisi kependudukan Yang mencerminkan kenaikan taraf hidup rakyat di suatu
negara adalah besarnya tabungan dan akumulasi kapital dan laju pertumbuhan
penduduknya. Laju pertumbuhan yang sangat cepat di banyak negara sedang
berkembang nampaknya disebabkan oleh fase atau tahap transisi demografi yang
dialaminya. Negara-negara sedang berkembang mengalami fase transisi demografi
di mana angka kelahiran masih tinggi sementara angka kematian telah menurun.
Kedua hal ini disebabkan karena kemajuan pelayanan kesehatan yang menurun angka
kematian balita dan angka tahun harapan hidup. Ini terjadi pada fase kedua dan
ketiga dalam proses kependudukan. Umumnya ada empat tahap dalam proses
transisi, yaitu:
Tahap
1:Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka
kematian
tinggi menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah;
Tahap
2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang lebih
baik menghasilkan penurunan angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah
penduduk naik.
Tahap
3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita,
urbanisasi, dan kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah
tangga menginginkan jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka
kelahiran. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi
sudah mulai menurun;
Tahap
4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan berumah tangga melaksanakan
pembatasan kelahiran dan mereka cenderung bekerja di luar rumah. Banyaknya anak
cenderung hanya 2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat
rendah atau bahkan mendekati nol.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Orang yang
pertama-tama mengemukakan teori mengenai penduduk adalah Thomas Robert Malthus
yang hidup pada tahun 1776 – 1824. Kemudian timbul bermacam-macam pandangan
sebagai perbaikan teori Malthus. Dalam edisi pertamanya Essay on Population
tahun 1798 Malthus mengemukakan dua pokok pendapatnya yaitu :Bahan makanan
adalah penting untuk kehidupan manusia, Nafsu
manusia tak dapat ditahan. Malthus juga mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk
jauh lebih cepat dari bahan makanan. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi
perbedaan yang besar antara penduduk dan kebutuhan hidup. Dari
teori Maltus tersebut banyak yang beranggapan bahwa teori maltus ini
bersifat pesimistik, namun pada akhirnya teori ini memiliki banyak penganut
paham maltus sehingga kebenaran akan teori ini seolah-olah benar adanya.
Komentar
Posting Komentar